Kesaksian Saya

Nama saya Seth Tan, tinggal di Singapura. Dalam kesempatan ini saya akan memberikan kesaksian bagaimana baiknya Tuhan Yesus dalam kehidupan saya.

Ketika saya dilahiran, berat badan saya hanya 1.9 kg dan mempunyai kelainan pada system pencernaan, sedangkan saudara kembar saya, Sean, lahir dengan kondisi normal dan mempunyai berat badan 2.7 kg. Dan dia diperbolehkan pulang ke rumah, sedangkan saya masih harus tinggal di rumah sakit selama kurang lebih 3 (tiga) bulan.

Pada kondisi normal, pada hari pertama kelahiran paling tidak si bayi pasti akan membuang air besar, namun hal tersebut tidak terjadi pada saya. Karena dari lahir tidak pernah mengeluarkan kotoran, dokter khawatir kotoran tersebut akan berubah menjadi racun.

Pada hari kedua, setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menemukan bahwa ada kelainan pada sambungan usus besar dan usus kecil, sehingga kotoran dari tubuh saya telah mengeras pada usus kecil dan tidak bisa masuk ke usus besar. Sehingga harus dilakukan sebuah operasi kecil untuk mengeluarkan kotoran tersebut.

Namun karena kondisi tubuh saya yang sangat kecil, resiko dari operasi ini sangat besar, kemungkinan bagi saya untuk bertahan hidup atas operasi ini hanya 50%. Dokter berusaha meyakinkan dan menghibur ayah saya dengan mengatakan kalaupun operasi ini gagal, papa masih mempunyai satu anak kembar lagi.

Akhirnya keputusan untuk operasi walaupun dengan kemungkinan untuk hidup hanya 50% diambil oleh kedua orang tua saya, dan mereka sangat ketakutan setiap kali telephone di rumah berbunyi, karena mereka berpikir itu adalah telephone dari rumah sakit dengan kabar yang tidak baik.

Ditengah kekhawatiran mereka, mereka memohon kepada hamba-hamba Tuhan dan teman-teman dari gereja untuk mendoakan saya, agar Tuhan menunjukkan mujizatnya.

Dan puji Tuhan! Operasi berhasil dengan baik, bagian samping tubuh saya dilubangi dan dipasangin kantung, sehingga kotoran-kotoran bisa keluar dari usus kecil langsung ke kantong yang telah disediakan.

Selang berapa lama setelah operasi, lutut sebelah kiri saya mengalami infeksi dan bengkak sampai sebesar bola tennis. Dan akhirya saya dioperasi kembali pada bagian kaki dan sekarang, kondisi kaki kiri saya lebih pendek 3 cm dari kaki kanan saya.

Selama di rumah sakit, dokter semakin khawatir dengan kondisi saya, dimana berat badan saya tidak beranjur naik, dan orang tua saya hanya bisa melihat saya pada jam besuk, selain itu mereka juga masih harus merawat saudara kembar saya, Sean.

Akhirnya salah seorang dokter menganjurkan agar saya dibawa pulang, agar orang tua saya bisa merawat saya dengan lebih baik. Dan ketika saya sudah dirawat di rumah, berat badan saya berangsur-angsur mulai bertambah.

Dokter memperkirakan saya mengalami penyakit Hirschsprung’s Disease (HD), sebuah penyakit dimana sebahagian atau keseluruhan usus besar saya tidak mempunyai syaraf/otot sehingga tidak bisa berfungsi. Sebuah anal test dilakukan, dan hasilnya sama seperti yang diperkirakan dokter, bahwasannya pada usus besar saya tidak didapati syaraf/otot.

Akhirnya dokter menganjurkan agar saya di operasi kembali untuk membuang usus besar saya dan kemudian menghubungkan usus kecil saya langsung ke rectum (anus). Apabila operasi ini berhasil, maka saya tidak perlu lagi menggunakan kantong karena saya sudah bisa membuang air besar seperti orang normal lainnya. Namun konsekwensi sangat mahal, yaitu saya harus mengkonsumsi sejenis enzyme buatan disepanjang hidup saya dan harganya sangat-sangat mahal.

Ada hari operasi, tubuh saya kembali menguning, dan dokter memberikan saya dua buah obat antibiotik yang sangat kuat. Akhirnya tubuh saya berubah warna dari kuning menjadi kemerahan (pisang sampai apel).

Di ruang operasi, dokter mengambil keputusan untuk melakukan spot cek pada usus besar sekali lagi sebelum operasi dimulai. Puji Tuhan! Pada saat spot cek tersebut pada usus besar saya ditemukan syaraf/otot! Padahal sebelumnya dokter sudah memeriksa dan pada usus besar saya tidak ada syaraf/otot sama sekali. Akhirnya usus besar besar saya tidak jadi di buang.

Dokter berkata kepada ayah saya, bahwa ini adalah sebuah mimpi buruk apabila dia sampai melakukan kesalahan, karena sebelumnya sudah diperiksa bahwa di usus besar tidak ada syaraf/otot, namun begitu operasi akan dilakukan dan sudah di meja operasi, ternyata pada usus besar ada syaraf/ototnya.

Setelah itu saya mengalami diare selama kurang lebih 1 (satu) minggu, sebabnya adalah karena sejak lahir usus besar saya tidak berfungsi sama sekali, sehingga apapun yang melalui usus besar tersebut semuanya akan ditolak kembali.

Setelah itu semuanya berjalan dengan baik dan normal. Saya sungguh berterima kasih pada Tuhan atas kasihnya pada saya dan keluarga dan Dia sudah melakukan suatu mujizat yang indah di kehidupan saya.

Ketika saya mengdengarkan pengalaman hidup saya dari mulai dilahirkan yang diceritakan oleh kedua orang tua saya, saya mendapatkan beberapa pelajaran yang sangat berharga, yaitu:

  1. Tuhan mengenal kita dengan sangat baik dari hari kita dilahirkan di dunia ini.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.  Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.  Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Mazmur 139:13-16

Tuhan punya rencana yang special dalam hidup kita. Dia bisa membiarkan saya mati, namun dia menyelamatkan saya. Saya percaya Tuhan menginginkan saya untuk membagi kesaksian hidup saya pada orang-orang. Tuhan mengasihi dan menjaga kita, walaupun kita muda ataupun tua.

“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Mazmur 103:8

  1. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Lukas 1:37

Kadang kita meminta pada Tuhan sesuatu yang sangat kecil, karena kedagingan kita lakukan. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhannya untuk sesuatu yang tidak mungkin. Dia lebih besar dari masalah-masalah yang kita hadapi. Seperti yang Efesus 3:20 katakan “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”

Tuhan membawa kita untuk berhadapan dengan masalah ataupun situasi yang sulit untuk melihat apakah dengan segala permasalahan yang sedang kita hadapi apakah kita akan tetap setia kepada Dia atau tidak. Seperti kedua orang tua saya, ketika mereka menghadapi situasi yang sedemikian menderitanya dengan kemungkinan kehilangan seorang anak, mereka datang kepada Tuhan dan berdoa untuk kesembuhan saya.

Mari saudara terkasih, kita harus selalu mengingat Tuhan dan menaruh harapan kepada Dia, karena Dialah yang mengontrol segala sesuatu di kehidupan kita.

Kiranya kesaksian saya ini, bisa mengubah dan menguatkan Saudara untuk selalu berjalan di dalam Tuhan. Amin!

(seperti disapaikan oleh Seth Tan pada ibadah Jemaat Kristen Indonesia “El Shaddai” – Binjai, minggu, 19 Mei 2013. Diterjemahkan oleh Ps. Winta Karna, S. Kom)